Trubus.id -- Setiap tanggal 21 Februari diperingati sebagai Hari Peduli Sampah. Namun..."> Trubus.id -- Setiap tanggal 21 Februari diperingati sebagai Hari Peduli Sampah. Namun...">
SEKOLAH PEDALANGAN WAYANG SASAK | Agar Kita Tak Hilang Jejak

Inovatif, Sanggar Anak Semesta Daur Ulang Sampah Plastik Jadi Wayang Edukatif

wayangsasak      31 Agustus 2019 | kliping


TrubusNews

Karmin Winarta | 20 Feb 2019  

Trubus.id -- Setiap tanggal 21 Februari diperingati sebagai Hari Peduli Sampah. Namun sampai saat ini masalah sampah anorganik, khususnya plastik masih menjadi isu lingkungan yang tak hanya terjadi di kota-kota besar dunia. Namun juga di berbagai daerah di Indonesia. Banyak lembaga, komunitas atau perorangan yang mencoba mengurangi penggunaan sampah plastik dengan program-program yang kreatif.

Salah satu sosok kreatif yang memanfaatkan sampah plastik itu adalah Abdul Latif Apriaman. Laki-laki dari Sekolah Pedalangan Wayang Sasak ini berhasil memanfaatkan sampah plastik rumah tangga untuk mengedukasi anak-anak di Kelurahan Taman Sari, Ampenan, Lombok.

Ia memanfaatkan botol dan gelas air mineral untuk membuat Wayang Botol. Wayang botol ini adalah modifikasi dari Wayang Sasak yang terbuat dari kulit hewan yang harganya cukup tinggi. Satu perangkat wayang kulit bisa berharga sekitar 200 jutaan rupiah.

Awal Berdirinya

Kepada Trubus.id, ia menceritakan, berdirinya Sekolah Pedalangan Wayang Sasak pada 2015, berawal dari keprihatinannya soal jumlah dalang Wayang Sasak yang semakin hari semakin berkurang jumlahnya. 

"Selain itu jumlah pertunjukan wayang sasak juga semakin jarang. Selama itu munculnya dalang kebanyakan lahir secara biologis. Artinya mereka berasal dari kerabat dalang, kalau bukan cucunya atau anaknya dalang, " katanya.

Laki-laki yang juga jurnalis ini yakin, ilmu mendalang itu bisa ditransfer kepada orang yang tidak berkaitan langsung dengan keturunan dalang atau tokoh-tokoh pedalangan.  

Sampai hari ini Sekolah Pedalangan Wayang Sasak telah melakukan pentas sebanyak 60 kali di berbagai daerah. Dalam perjalanan pentasnya muncul ide untuk membuat wayang botol. Selain harganya lebih murah, materi botol bisa didapat dengan mudah. Ia menceritakan hampir di tiap keluarga terdapat sampah botol dan gelas plastik bekas air kemasan.

Keunggulan Bahan Wayang dari plastik

Dari bahan-bahan sederhana ini tampilan wayang botol malah tampak lebih menarik, dibanding wayang kulit ketika dimainkan. Karena wayang botol bahannya transparan dan bisa diwarnai. Sementara wayang sasak dari kulit  munculnya hanya berbayang hiam putih.

"Dan ternyata ini yang menjadi salah satu daya tarik penonton. Penonton utama wayang botol ini adalah anak-anak. Wayang Sasak ini masih bisa diterima dan anak-anak ini yang paling bersetia, bertahan saat menonton. Mereka yang mengapresiasi paling jujur, duduknya paling depan, terbengong-bengong, ketawa-tawa melihat adegan, bayangan bergerak-gerak, "katanya. 

Apriaman optimis Wayang Sasak masih bisa diterima oleh publik, meskipun selama ini memang mulai surut karena harus berkompetisi dengan gadget.

Perjalanan berikutnya, Sekolah Pedalangan Wayang Sasak membuat Sanggar Anak Semesta. Di sanggar ini anak-anak belajar bermain teater dan tentu saja belajar membuat wayang botol yang bahannya dari sampah plastik.  

Program Sibatur

"Wayang botol baru tiga bulan. Awalnya kami diminta untuk menemani anak-anak di tiga sanggar di tiga desa di Lombok. Kami membuat gerakan Sibatur ( simak, baca tulis tutur). Dari sini muncul fakta menarik, tidak benar anak-anak ini tidak suka membaca.

Ia yakin dengan cara yang menyenangkan, anak-anak punya ketertarikan yang besar untuk membaca. Dengan program Sibatur ini, anak-anak dibekali satu buku catatan harian, tempat untuk mencatat buku apa yang sudah mereka baca, ceritanya apa, semacam resensi sederhana. Mereka juga mencatat mimpinya, apa yang ingin mereka lakukan dan yang telah dilakukan.

"Di bagian bertutur, anak-anak ini diajari dengan wayang yang mereka buat sendiri. Kami mengajari membuat wayang. Di situlah ketemu wayang botol, wayang tiga dimensi yang lebih menyenangkan bagi anak-anak, " tambahnya.

Harapan pendirinya

Menurutnya wayang botol masih belum sempurna karakternya. Ia merasa perlu masukan dari teman-teman perupa untuk kostum agar hasilnya lebih menarik. Wayang-wayang botol yang ada sekafang ini adalah hasil karyanya bersama istrinya. 

Selain memakai botol dan gelas air kemasan, ia juga memanfaatkan stereofom yang tak bisa terurai di tanah untuk membentuk wajah, hidung dan mata. Untuk baju,rencananya akan memanfaatkan bungkus deterjen yang lebih lebar.

"Semua bagian yang dipakai untuk wayang botol itu tak ada bagian yang dibuang. Limbahnya tidak ada, minim sekali, " katanya.

Ia mengajak gerakan memanfaatkan sampah botol plastik ini ditiru oleh teman-teman di wilayah lain. Jika anak-anak mampu membuat wayang botol bersama orang tuanya, selain untuk menyelamatkan lingkungan juga bisa meningkatkan interaksi antara orang tua dan anak. Dan tentu saja mereka lebih kreatif dengan mencipta mainannya sendiri. 

 

Share to:

Twitter Trubus.id -- Setiap tanggal 21 Februari diperingati sebagai Hari Peduli Sampah. Namun..." target="_blank" class="btn btn-facebook btn-sm"> Facebook Google+ Stumbleupon LinkedIn
kliping | Teater Wayang Botol dan Pesan untuk Bersama-sama Menjaga Bumi

Simposium keenam Jaringan Taman Bumi Asia Pasifik (APGN) 2019 yang berlangsung di Lombok, Nusa Tenggara Barat 31 Agustus-7 September 2019, ditutup dengan pertunjukan Teater Waya ... baca

kliping | Rencana Kebijakan "Full Day School" akan Dibatalkan

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan akan membatalkan rencana kebijakan perpanjangan jam sekolah dasar dan menengah. Pembatalan ini disambut baik berbagai kalangan. (VOA — li ... baca

kabar | Setiap Tamu Adalah Siswa, Adalah Guru

Nova, Desi, Ina, Farid, Hamdani dan kawan-kawannya sore itu betapa girangnya. Kelas mereka di Sekolah Pedalangan Wayang Sasak (SPWS) , di Desa Sesela, Lombok Barat kedatangan se ... baca

kliping | “Roah Ampenan” Bukti Ampenan Masih Tetap Ampenan

kicknews.today Mataram – Sejak sekitar pukul 20.00 wita alunan suara music etnis kontemporer mulai menggema di kawasan Eks Pelabuhan Kota Tua Ampenan. Sek ... baca

kabar | Labuhan Carik, Petilasan Pertama Wayang Sasak di Lombok

Tak pernah terbayang sebelumnya, para siswa Sekolah Pedalangan Wayang Sasak (SPWS) mendapat kejutan-kejutan dalam perjalanan belajar mereka. Setelah merayakan ulang tahun pertam ... baca

kliping | Multi Talenta, Kini Bertahan Hidup dari Jual Wayang

Menjenguk Para Sesepuh Dalang Wayang Sasak

Lombok punya banyak dalang pewayangan. Pada masa jayanya, mereka dielu-elukan. Tapi roda zaman terus menggilas. Kegemilangan i ... baca

kliping | Sedih karena Wayang Leluhur Diboyong Orang Balanda

Menjenguk Para Sesepuh Dalang Wayang Sasak

Para sesepuh merindukan generasi penerus. Tidak sekedar mempelajari secara teori. Tapi mereka merindukan lahirnya dalang-dalan ... baca


Yayasan Pedalangan Wayang Sasak © 2016
sekolahwayang@gmail.com