SEKOLAH PEDALANGAN WAYANG SASAK | Agar Kita Tak Hilang Jejak

Setiap Tamu Adalah Siswa, Adalah Guru

wayangsasak      09 Agustus 2016 | kabar


Nova, Desi, Ina, Farid, Hamdani dan kawan-kawannya sore itu betapa girangnya. Kelas mereka di Sekolah Pedalangan Wayang Sasak (SPWS) , di Desa Sesela, Lombok Barat kedatangan seorang tamu. Kali ini tamunya seorang bule, seorang dosen Bahasa Inggris di  University of New Mexico. ErinLebaqz nama bule itu. Berbeda dengan bule yang mereka lihat selama ini, bule yang satu ini enak mereka ajak ngobrol, bahkan beberapa anak mengucek rambutnya, “Seperti boneka!” kata salah seorang diantara mereka.

Erin adalah salah seorang tamu yang sempat bertandang dan menginap  di SPWS. Di sekolah ini berlaku semacam aturan tak tertulis bahwa mereka yang datang, selain sebagai  tamu juga harus siap sebagai guru bagi puluhan anak yang setiap hari berkumpul  dan bermain di sekolah sederhana ini. Tanpa komando, anak-anak yang sebagian diantaranya  masih belum mengenyam pendidikan formal itu akan “meneror” dengan sejumlah pertanyaan-petanyaan yang harus segera dijawab.

“Bule... Bule... wats yur nem?” Tanya seorang anak
“Saya Erin, Saya bukan Bule.” Jawab Erin sambil tersenyum.

Di bulan-bulan pertama berdirinya SPWS, para siswanya adalah anak-anak usia SMP hingga pemuda-pemuda putus Sekolah di sekitar Desa Sesela. Awalnya belum terpikir untuk membuat kelas bagi anak-anak usia dini. Tapi belakangan setelah beberapa kali menggelar pertunjukan Wayang Sasak, anak-anak itu  berdatangan dan semakin banyak dari hari ke hari. “Awalnya mereka menonton kakak-kakanya latihan mendalang, lama-lama mereka mulai betah membuka-buka buku di perpustakaan. Dan Sekarang hampir setiap hari mereka berkumpul di sini.” Kata Muhaimi, Kepala Sekolah SPWS.  

Melihat anak-anak yang begitu bersemangat datang ke SPWS setiap hari, Emy—pangilan akrab Muhaimi—mulai mengajarkan mereka pelaaran Bahasa Inggris dan Bahasa Sasak kuno (Jejawen). Tanggapan anak-anak itu ternyata di luar dugaan, mereka belangan menuntut jadwal belajar. “Saya kewalahan, mereka minta belajar terus setiap hari. Setiap  bertemu saya mereka pasti menanyakan kapan belajar lagi.” Tutur Emy.

Jadwal belajarpun akhirnya dibuat secara sederhana. Tiga hari pertemuan dalam sepekan, masing-masing sehari belajar Bahasa Jejawen, Bahasa Inggris dan Seni  (mendalang, teater, musik dan tari). Beruntunglah Emy mendapat tawaran bantuan, beberapa orang relawan belakangan mau menjadi menjadi pengajar—atau tepatnya menjadi kawan belajar para siswa cilik SPWS.

Belajar Itu Menyenangkan
Tanpa harus menerapkan sistem Full Day School, atau sekolah sehari penuh seperti yang dirancang Bapak Menteri Pendidikan yang Baru, Muhajir, Sekolah Pedalangan Wayang Sasak tak pernah sepi dari siswanya. Suasana di SPWS yang membebaskan anak-anak untuk bermain, mencari dan membaca sedikit koleksi buku perpustakaan, atau menggambar dan bermain musik membuat anak-anak ini betah berlama-lama di Sekolah. Keriuhan mereka biasanya baru akan mereda menjelang magrib karena mereka mesti bergegas pulang untuk sholat dan mengaji di surau yang berada tepat di samping SPWS. Tak ada PR, tak ada kewajiban berbaju seragam, juga tak ada iuran yang memberatkan orang tua mereka.

Di sekolah ini, semua orang akhirnya bisa menjadi siswa sekaligus menjadi guru. Seperti Erin yang tak mau dipanggil bule atau turis, dia didaulat para siswa yang menyebutnya Guru Erin, tapi Erin mengaku banyak belajar dari para siswa. “Saya suka dengan semangat belajar mereka.” katanya. (Tim WS)

 

Share to:

Twitter Facebook Google+ Stumbleupon LinkedIn
kliping | Rencana Kebijakan "Full Day School" akan Dibatalkan

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan akan membatalkan rencana kebijakan perpanjangan jam sekolah dasar dan menengah. Pembatalan ini disambut baik berbagai kalangan. (VOA — li ... baca

kliping | “Roah Ampenan” Bukti Ampenan Masih Tetap Ampenan

kicknews.today Mataram – Sejak sekitar pukul 20.00 wita alunan suara music etnis kontemporer mulai menggema di kawasan Eks Pelabuhan Kota Tua Ampenan. Sek ... baca

kabar | Labuhan Carik, Petilasan Pertama Wayang Sasak di Lombok

Tak pernah terbayang sebelumnya, para siswa Sekolah Pedalangan Wayang Sasak (SPWS) mendapat kejutan-kejutan dalam perjalanan belajar mereka. Setelah merayakan ulang tahun pertam ... baca

kliping | Multi Talenta, Kini Bertahan Hidup dari Jual Wayang

Menjenguk Para Sesepuh Dalang Wayang Sasak

Lombok punya banyak dalang pewayangan. Pada masa jayanya, mereka dielu-elukan. Tapi roda zaman terus menggilas. Kegemilangan i ... baca

kliping | Sedih karena Wayang Leluhur Diboyong Orang Balanda

Menjenguk Para Sesepuh Dalang Wayang Sasak

Para sesepuh merindukan generasi penerus. Tidak sekedar mempelajari secara teori. Tapi mereka merindukan lahirnya dalang-dalan ... baca

kliping | Terbangkan Wayang Lombok Hingga Eropa dan Amerika

Menjenguk Para Sesepuh Dalang Wayang Sasak

Di balik dalang masih ada “dalang” yang mentukan kesuksesan pentas wayang. Di Panggung ada pemusik dan pengabih, s ... baca

kabar | Keseruan Pentas Wayang Sasak di Forum Anak Mataram

Ajarkan Anti Korupsi, Amaq Kesek Bisa Diajak Ngobrol.

Menyaksikan pentas wayang kulit sudah biasa. Tapi apa jadinya bila para tokoh wayang itu mengajak ... baca


Yayasan Pedalangan Wayang Sasak © 2016
sekolahwayang@gmail.com