SEKOLAH PEDALANGAN WAYANG SASAK | Agar Kita Tak Hilang Jejak

Asesor UNESCO: Saya Belum Pernah Melihat Pertunjukan Seperti Ini

wayangsasak      22 Mei 2016 | kabar


Catatan dari Kunjungan Asesor UNESCO ke SekolahPedalangan Wayang Sasak
Wayangsasak.org—Entah apa yang terbayang dalam pikiran dua orang asesor UNESCO  (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) -- Maurizio Burlando dari Genoa Italia dan Soo Jae Lee dari Korea – saat memasuki ruang-ruang sederhana di Sekolah Pedalangan Wayang Sasak (SPWS) Jum’at (20/5) siang  itu. Senyum seolah tak pernah lepas dari wajah kedua asesor yang datang ke Lombok untuk menilai kesiapan Rinjani menjadi  geopark atau taman bumi.  Dan saat para siswa sekolah pedalangan mulai memainkan potongan adegan pertunjukan wayang sasak, tak henti-hentinya kedua asesor itu mengabadikan momen yang asing bagi mereka.
“Saya belum pernah melihat pertunjukan seperti ini,” kata  Soo Jae Lee, asesor  dari Korea  ketika ditanya  komentarnya mengenai pertunjukan wayang sasak yang dia saksikan. Sementara itu  Maurizio Burlando dari asesor Genoa Italia, tak berkomentar kecuali terus mengambil gambar melalui kamera telepon genggamnya dengan wajah sumringah.

Kepada kedua orang  tim asesor UNESCO, Kepala SPWS, Muhaimi memaparkan program-program yang sudah dijalankan selama berdirinya SPWS., mulai dari pembagian kelas di SPWS yang terdiri dari kelas pedalangan, kelas musik wayang  dan kelas tatah wayang.  “Kami memainkan wayang alternatif dengan beragam tema, antara lain soal lingkungan, soal peradilan bersih dan anti korupsi.” Kata Muhaimi.
Lepas dari menyaksikan potongan pertunjukan wayang sasak yang digelar dalam studio latihan yang sangat sederhana, kedua asesor UNESCO meninjau kegiatan kelas tatah dan ukir wayang.  Dan sekali lagi mereka tak henti-hentinya memotret momen-momen yang hadir di depan mereka. Dua buah miniatur wayang sasak yang  baru saja selesai dibuat oleh siswa SPWS, menjadi buah tangan bagi kedua asesor.
Kehadiran tim asesor UNESCO siang itu disambut oleh guru-guru Sekolah Dalang antara lain Ki Dalang Sukardi  selaku guru pedalangan, guru musik Muhajir  dan Dalang cilik Jagad yang sudah mengukir prestasi mendalang ditingkat nasional. Hadir pula  Kepala Desa Sesela, Asmuni, Ketua perkumpulan Ideaksi, Muhary Wahyu Nurba dan penggagas sekaligus pendiri Yayasan Pedalangan Wayang Sasak, Fitri Rachmawati dan Abdul Latif Apriaman.
Sebuah Pertanda  Baik
Kehadiran asesor UNESCO untuk Rinjani Geopark keSekolah pedalangan Wayang Sasak diharapkan bakal menjadi pertanda baik bagi keberadaan sekolah pedalangan yang baru pertama berdiri di Lombok.  Terlebih lagi, momen kunjungan asesor UNESCO itu berbarengan dengan rangkaian kegiatan ulang tahun pertama SPWS. “Sungguh ini sebuah kehormatan bagi kami. Diusia sekolah pedalangan yang  baru setahun, kami dipercaya menjadi bagian dari sebuah mimpi masyarakat NTB untuk menjadikan Rinjani  sebagai taman bumi.” Kata Fitri Rachmawati, selaku penggagas dan pendiri Yayasan Pedalangan Wayang Sasak.
Fitri menambahkan bertepatan dengan hari kunjungan asesor UNESCO ke SPWS, setahun lalu tim dari perkumpulan IDEAKSI dan Sanggar Seni Selaparang – Sesela, tengah mematangkan persiapan lahirnya sebuah sekolah pedalangan yang dihajatkan menjadi bagian dari upaya melestarikan wayang sasak.  “Dengan segala keterbatasan yang ada, kami akhinya bersepakat bahwa gagasan mendirikan sekolah pedalangan itu mesti segera diwujudkan.  Karena kita tak ingin kehilangan jejak, jejak sebuah warisan leluhur yang tak ternilai harganya.” Kata fitri seraya menambahkan di 29 Mei 2015, Sekolah Pedalangan Wayang Sasak akhirnya secara resmi berdiri.
Kehadiran tim asesor UNESCO ini adalah sebuah kado  ulang tahun terbaik bagi Sekolah Pedalangan Wayang Sasak. Semoga ini juga menjadi pertanda baik bagi terwujudnya cita-cita masyarakat NTB untuk Rinjani menjadi Taman Bumi.

 

Share to:

Twitter Facebook Google+ Stumbleupon LinkedIn
kliping | Rencana Kebijakan "Full Day School" akan Dibatalkan

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan akan membatalkan rencana kebijakan perpanjangan jam sekolah dasar dan menengah. Pembatalan ini disambut baik berbagai kalangan. (VOA — li ... baca

kabar | Setiap Tamu Adalah Siswa, Adalah Guru

Nova, Desi, Ina, Farid, Hamdani dan kawan-kawannya sore itu betapa girangnya. Kelas mereka di Sekolah Pedalangan Wayang Sasak (SPWS) , di Desa Sesela, Lombok Barat kedatangan se ... baca

kliping | “Roah Ampenan” Bukti Ampenan Masih Tetap Ampenan

kicknews.today Mataram – Sejak sekitar pukul 20.00 wita alunan suara music etnis kontemporer mulai menggema di kawasan Eks Pelabuhan Kota Tua Ampenan. Sek ... baca

kabar | Labuhan Carik, Petilasan Pertama Wayang Sasak di Lombok

Tak pernah terbayang sebelumnya, para siswa Sekolah Pedalangan Wayang Sasak (SPWS) mendapat kejutan-kejutan dalam perjalanan belajar mereka. Setelah merayakan ulang tahun pertam ... baca

kliping | Multi Talenta, Kini Bertahan Hidup dari Jual Wayang

Menjenguk Para Sesepuh Dalang Wayang Sasak

Lombok punya banyak dalang pewayangan. Pada masa jayanya, mereka dielu-elukan. Tapi roda zaman terus menggilas. Kegemilangan i ... baca

kliping | Sedih karena Wayang Leluhur Diboyong Orang Balanda

Menjenguk Para Sesepuh Dalang Wayang Sasak

Para sesepuh merindukan generasi penerus. Tidak sekedar mempelajari secara teori. Tapi mereka merindukan lahirnya dalang-dalan ... baca

kliping | Terbangkan Wayang Lombok Hingga Eropa dan Amerika

Menjenguk Para Sesepuh Dalang Wayang Sasak

Di balik dalang masih ada “dalang” yang mentukan kesuksesan pentas wayang. Di Panggung ada pemusik dan pengabih, s ... baca


Yayasan Pedalangan Wayang Sasak © 2016
sekolahwayang@gmail.com